Jumat, 01 November 2013

Sang Pendaki Waktu

Dunia yang selalu berputar ibaratkan jarum jam yang tak pernah berhenti sedikit pun. Membuat para penjajah kehidupan selalu antusias untuk “menggali lubang-lubang” yang bercerita.
Aku, kita, kamu merupakan “pendekar” yang selalu sibuk dengan rutinitas hidup yang terkadang itu sebuah fatamorgana yang berbunga indah dan berkembang cepat.
Pada waktu bersamaan satu hari saya keliling dua negeri yang berdampingan yaitu Surabaya dan Sidoarjo. Dua kota yang sama-sama berinisial ‘S’ ini merupakan dua kota bagi sang pendaki waktu selalu menjadi something baginya.
Dari kota Surabaya saya menuju kota Sidoardjo untuk silaturahmi ke rumah keluarga temen. Walaupun hujan turun begitu lebat laksana hujan meteor yang selalu memancarkan cahayanya ke bumi. Banyak pengalaman, pembelajaran yang didapatkan dari itu semua, khususnya mengenai perjuangan yang sebenarnya. Dalam setiap apa yang dilakukan saya selalu berpikir mengenai hal-hal tersebut apakah bermanfaat atau tidak, memiliki hikmah atau malah memberikan racun bagi hidup saya. Yang terpenting menjalani itu semua dengan ikhlas.
Sebagaimana kita ketahui bahwa Allah mengatakan dalam firman-Nya berbunyi kurang lebih ; “Sesungguhnya apa yang kita anggap itu benar dan baik bagi kita belum tentu itu baik bagi Allah SWT dan sebaliknya pula dimana sesuatu yang dianggap itu tidak baik bagi kita tapi belum tentu itu baik bagi Allah SWT”.
Perjalanan itu memang cukup sulit dilalui dimana habis pulang dari itu ane directly pergi menjemput anak les private saya di Kejawan Tambak Putih lebih tepatnya di daerah Pembakaran Sampah. Sesampai di rumahnya ternyata kosong tak berpenghuni otomatis ane menunggu disitu hampir setengah jam lebih.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar