Rabu, 30 Oktober 2013

PTK

MAKALAH
PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)
“Konsep Dasar CAR”



Oleh :



1.  Abdul Fatah Al Anshori (Dakwah)
2.  Jalaluddin (Dakwah)
3.  Muhammad Arifin Saddoen (Tarbiyah)
4.  Najamuddin (Tarbiyah)


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM LUQMAN AL HAKIM
HIDAYATULLAH SURABAYA
2013


KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang selalu melimpahkan Karunia-Nya kepada kita semua terkhusus para pemakalah yang Alhamdulillah dapat menyelesaikan makalah Penelitian Tindakan Kelas ini dengan sukses
Sholawat berantai salam selalu kita hadiahkan kepada Nabi Muhammad, Manusia Idola kita yang selalu menjadi inspirasi dan motivasi bagi kita terlebih para pemakalh yang dapat menyelesaikan makalah tugas ini dengan tepat waktu dan berkobar-kobar.

Semoga ini selalu bermanfaat buat kita semua
amien
DAFTAR ISI

COVER...............................................................................................................................
KATA PENGANTAR.......................................................................................................
DAFTAR ISI......................................................................................................................
A.    Awal Perkembangan PTK
B.     Pengaruh Aliran Postmerdisme
C.    Tradisi Penelitian Kualitatif
D.    Pengertian CAR
E.     Contoh CAR
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................................



A.    Awal Perkembangan Penelitian Tindakan Kelas
Kegiatan penelitian tindakan berawal  di barat, kemudian berkembang meluas sehingga merupakan tindakan sosial yang di lakukan dalam bidang pendidikan. Mulanya, penelitian tindakan menjadi isu yang kontroversial di Amerika Sarikat yang pada perang dingin mencurigai dan membatasi segala sesuatu yang berbau komunisme atau maxisme. Hal ini terjadi karena penelian tindakan  banyak digunakan untuk meneliti masalah-masalah segregasi antara kulit putih dan kulit hitam.
Penelitian Tindakan atau Action Research mulai berkembang sejak perang dunia ke dua. Saat itu, Penelitian Tindakan sedang berkembang dengan pesatnya di negara-negara maju seperti Inggris, Amerika, Australia, dan Canada. Munculnya istilah Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) diawali dari adanya penelitian tindakan itu sendiri atau action research. Saat itu penelitian tindakan digunakan untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi seseorang dalam tugasnya sehari-hari dimanapun tempatnya, seperti kantor, pabrik, bank, sekolah, rumah sakit, dan lain sebagainya.
Munculnya istilah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini, dikarenakan untuk membedakan penelitian yang digunakan dalam dunia pendidikan dengan penelitian tindakan pada bidang lainnya. Penambahan kata kelas pada penelitian tindakan kelas ini, juga untuk mengarahkan pada pemecahan permasalahan dengan penerapan langsung di kelas. Kelas di sini tidak hanya berarti di ruang kelas, melainkan di manapun tempat guru tersebut mengadakan proses pembelajaran baik itu di laboratiorium, tempat praktek, atau proses pembelajaran di luar kelas.
Lahirnya rancangan penelitian tindakan kelas dapat ditelusuri dari awal penelitian dalam ilmu pendidikan yang diinspirasi melalui pendekatan ilmiah yang diadvokasi oleh filsuf John Dewey (1910) dalam bukunya How We Think dan The Source of a Science of Education.
Awal mulanya, Action Research dikembangkan oleh seorang psikologi bernama Kurt Lewin dengan tujuan untuk mencari penyelesaian terhadap problem sosial, seperti pengangguran atau kenakalan remaja yang berkembang di masyarakat pada waktu itu. Action Research diawali oleh suatu kajian terhadap suatu problem secara sistematis. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) pertama kali dikenalkan oleh Kurt Lewin. Pada waktu itu, PTK dipakai untuk mendeskripsikan penelitian yang merupakan perpaduan antara pendekatan eksperimental dalam bidang ilmu social dengan program tindakan social untuk menanggapi masalah social.
Di Indonesia mulai digerakkan pada waktu upaya-upaya perbaikan mutu pendidikan dimulai dengan renovasi ditingkat pendidikan guru sekolah dasar seperti pendidikan guru sekolah dasar (PGSD) kemudian berkembang di kalangan guru-guru SLTP dan SMA terutama mereka yang belajar studi ke-SD-an dan reguler pada program pasca sarjana LPTK seperti IKIP di jakarta, bandung, malang dan lain-lain dalam dekade tahun sembilan puluhan.
    
B.     Pengaruh Aliran Postmodernisme
Tidak dapat di pungkiri lagi bahwa para peneliti kualitatif banyak yang terpengaruh oleh aliran pasca modern ( postmodern), yang mengehendaki pendekatan inkuiri yang menolak upaya – upaya ilmiah dari kemampanan penelitian professional yang cendrung berstuktur kekuasaan.
Penelitian yang seperti itu juga di sebut sebagai penelitian pascaposifistik untuk membedakan dengan penelitian yang memakai alur piker hipotetik –deduktif – verifikatif. Isu mengenai postmodernisme sudah sua puluh tahun lebih menjadi perdebatan kontrolvesial dikalangan cendikiawan, terutama di Barat. Adapun yang di maksud dengan aliran pascamodern ialah merujuk pada gerakan estetik yang berkembang pada tahun  1980-an dikalangan disiplin ilmu seperti arsitektur, sastra, seni, sosiologi, mode fashion dan teknologi. Pada waktu itu di kalangan cendikiawan Prencis terbitlah sebuah karya Jean – Francois Lyotard  yang berjudul Postmodern condition (1979) yang isinya mengkritik landasan keilmuan yang holistic, dasar-dasar dari kenyataan kebenaran secara metafisik, dan terhadap tiori-tiori besar yang dijadikan ukuran kebenaran kenyataan tersebut.
Secara sederhana, gerakan ini menunjuk kepada aliran berfikir yang berkembang sesudah priode modernisme. Agar lebih jelas, dalam konteks sejarah, aliran modernisme sendiri yang berkembang pada zaman pencerahan atau pada abad ke-18 dan dilandasi dibidang keilmuan dengan rasio, atau rasionalitas sebagai bentuk tertinggi dalam fungsi mental yang di tandai dengan obyektivitas. Pengetahuan yang di capai melalui sains menghasilkan kebenaran yang universal mengenai dunia, dan kebenaran yang di capai melalui sains akan membawa peningkatan dan kemajuan kepada kemanusiaan.
Gugatan para peneliti aliran postmodernisme terhadap penelitian positivistic antara lain sebagai berikut :
1.       Kecendrungan yang deterministic
2.       Kecendrungan mereduksi, termasuk fenomena kemanusiaan yang harus tunduk   kepada satu peringkat dalil atau teori saja.
3.      Pengaruh peneliti sangat menentukan, seperti tampak dalam defenisi permasalahan, instrumentasi, pengumpulan data dan analisisnya, serta manfaat hasil penelitian dan dengan mengesampingkan hak-hak responden.
4.       Tekanan penelitian pada etict dengan perspektif luar (yang obyetif)dan mengesampingkan Emic yaitu penelitian yang mencangkup perspektip dalam.

C.    Tradisi Penelitian Kualitatif
Yang  dimaksud dengan tradisi penelitian aialah, apabila sekelompok ilmuan sepakat dalam hakikat universal dari pertanyaan atau permasalahan sah yang sedang di kaji. Sedangkan penelitian  kualitatif adalah sebuah proses inkuiri yang menyelidiki masalah-masalh social dan kemanusiaan dengan tradisi metodologis yang berbeda. peneliti membangun sebuah gambaran yang kompleks dan holistic, menganalisa kata-kata, melaporkan pandangan atau opini para informan, dan keseluruhan studi berlangsung dalam latar situasi yang alamiah.
Karena penelitian dan kegiatan ilmiah merupakan kegiatan social, maka para peneliti yang bekerja dalam berbagai tradisi penelitian dipengaruhi oleh pekerjaan peeneliti lainnya dan terjadi saling fertilisasi dari berbagai pengaruh. Berikut adala rangkuman dari karakteristik penelitian kualitatif :
1.      Penelitian kualitatif berlangsung dalan latar alamiah, tempat kejadian dan prilaku manusia berlangsung..
2.       Penelitian kualitatif  berbeda dengan asumsi-asumsi dengan penelitian kauntitatif, teori dan hipotesis tidak secar apriori diharuskan
3.      Peneliti adalah instrument utama penelitian dalam pengumpulan data.
4.      Data yang dihasilkan bersifat deskriftif atau dalam kata-kata.


D.    Penelitian Tindakan Kelas
a.       Dasar Pemikiran
Menurut Depdiknas (2005), “peningkatan mutu pendidikan dapat dicapai melalui berbagai cara, antara lain melalui peningkatan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan lainnya, pelatihan dan pendidikan, atau dengan memberikan kesempatan untuk menyelesaikan masalah-masalah pembelajaran dan nonpembelajaran secara profesional lewat penelitian tindakan secara terkendali”.
Dengan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dapat mengatasai masalah-masalah pendidikan, kurikulum, dan pembelajaran yang selama ini telah menjadi penyakit dalam dunia pendidikan. Yang dapat dianalisis, dikembangkan, dan ditingkatkan, supaya Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAKEM).

b.   Pengertian PTK/CAR
Pengertian penelitian tindakan kelas, untuk mengidentifikasi penelitian kelas adalah penelitian yang mengkombinasikan prosedur penelitian dengan tindakan substantive, suatu tindakan yang dilakukan dalam disiplin inkuiri atau suatu usaha seseorang untuk memahami apa yang sedang terjadi, sambil terlibat dalam sebuah proses perbaikan dan perubahan.
Raport mengartikan penelitian tindakan kelas untuk membantu seseorang dalammengarasi secara praktis persoalanm yang dihadapi dalam situasi darurat dan membantu pencapaian tujuan ilmu social yang disepakati bersama. Sedangkan Kemmis menjelaskan bahwa penelitian tindakan kelas adalah sebuah bentuk inkuri reflaktif yang dilakukan secara kemitraan mengenai situasi social tertentu untuk meningkatkan rasionalitas dan keadialan.

c.       Konsep PTK
Menurut Lewin, PTK merupakan cara guru untuk mengorganisasikan pembelajaran berdasarkan pengalamannya sendiri atau pengalamannya berkolaborasi dengan guru lain (kompetensi profesional). Sementara itu, Calhoun dan Glanz menjelaskan, bahwa PTK merupakan suatu metode untuk memberdayakan guru yang mampu mendukung kinerja kreatif sekolah (kompetensi profesional). Cole dan Knowles juga menegaskan, PTK dapat mengarahkan para guru untuk melakukan kolaborasi, refleksi, dan bertanya satu dengan yang lain dengan tujuan tidak hanya tentang program dan metode mengajar, tetapi juga membantu para guru mengembangkan hubungan-hubungan personal (kompetensi kepribadian).
Dari beberapa pengertian di atas, bahwa PTK dapat membantu meningkatkan beberapa kompetensi guru, yaitu; kompetensi profesional, kompetensi kepribadian, kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial, dan kompetensi pedagogik.
Jadi, PTK dapat diartikan sebagai suatu proses penyelidikan ilmiah dalam bentuk refleksi diri yang melibatkan guru dalam situasi pendidikan tertentu dengan tujuan memperbaiki pemahaman dan keadilan tentang situasi atau praktik pendidikan, memahami tentang praktik yang dilakukan, dan situasi-situasi di mana praktik itu dilaksanakan. Untuk mewujudkan tujuan-tujuan tersebut, PTK dilaksanakan dalam bentuk siklus, yang terdiri dari 4 tahapan, yaitu planning, action, observation/evaluation, dan reflection.

E.   Contoh PTK
Berikut ini adalah contoh PTK SD :
Pada mata pelajaran IPS, target dari guru mata pelajaran IPS adalah seluruh siswa kelas IV dapat menguasai peta buta pulau Jawa dan Sumatera.
Setelah 2x pertemuan, guru akan melakukan tes secara random dengan cara menyuruh beberapa siswa maju kedepan untuk menunjukkan daerah/wilayah di dalam peta buta. Ternyata dari 10 orang siswa yang maju ke depan, hanya 3 siswa yang dapat menjawab dengan benar. Selebihnya tidak bisa. Kemudian guru membagikan lembar soal yang berhubungan dengan peta buta ke seluruh siswa. Setelah 10 menit waktu yang diberikan untuk mengerjakan 5 soal, lembar soal dan jawaban dikumpulkan, hasilnya lebih dari separuh jumlah siswa menjawab salah. Sehingga bisa disimpulkan bahwa sebagian besar siswa belum menguasai peta buta setelah 2x pertemuan.
Yang harus dilakukan guru adalah mencoba mengevaluasi cara mengajar dan mencari sumber masalah mengapa para siswa kesulitan menguasai peta buta. Pada pertemuan berikutnya, guru akan mengulang tema peta buta dengan menggunakan metode mengajar yang berbeda dengan metode yang digunakan sebelumnya. Setelah itu, dilakukan cara yang sama seperti sebelumnya dengan soal
Yang berbeda untuk mengetahui kemampuan siswa. Apabila target telah dipenuhi (semua siswa dalam kelas) telah menguasai materi peta buta, maka bisa dilanjutkan dengan materi yang lain. Namun bila ternyata target masih belum dipenuhi, maka guru akan terus mengulang materi tersebut dengan menggunakan metode pengajaran yang lain.
Langkah terakhir dari PTK SD ini adalah penarikan sebuah kesimpulan atas metode pengajaran yang harus digunakan supaya siswa dalam kelas menguasai materi yang diajarkan. Kesimpulan ini yang akan dijadikan sebagai bahan rekomendasi kepada sekolah mengenai metode pengajaran atas mata pelajaran tertentu




DAFTAR PUSTAKA


http://rockywinata.wordpress.com/2013/05/07/contoh-penelitian-tindakan-kelas-ptk-sd/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar