MAKALAH
PENELITIAN
TINDAKAN KELAS (PTK)
“Konsep
Dasar CAR”

Oleh
:
1. Abdul Fatah Al Anshori (Dakwah)
2. Jalaluddin (Dakwah)
3. Muhammad Arifin Saddoen (Tarbiyah)
4. Najamuddin (Tarbiyah)
SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAM LUQMAN AL HAKIM
HIDAYATULLAH
SURABAYA
2013
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT yang selalu
melimpahkan Karunia-Nya kepada kita semua terkhusus para pemakalah yang
Alhamdulillah dapat menyelesaikan makalah Penelitian Tindakan Kelas ini dengan
sukses
Sholawat berantai salam selalu kita hadiahkan
kepada Nabi Muhammad, Manusia Idola kita yang selalu menjadi inspirasi dan
motivasi bagi kita terlebih para pemakalh yang dapat menyelesaikan makalah
tugas ini dengan tepat waktu dan berkobar-kobar.
Semoga ini selalu
bermanfaat buat kita semua
amien
DAFTAR ISI
COVER...............................................................................................................................
KATA
PENGANTAR.......................................................................................................
DAFTAR
ISI......................................................................................................................
A.
Awal Perkembangan PTK
B.
Pengaruh Aliran Postmerdisme
C.
Tradisi Penelitian Kualitatif
D.
Pengertian CAR
E.
Contoh CAR
DAFTAR
PUSTAKA.......................................................................................................
A. Awal
Perkembangan Penelitian Tindakan Kelas
Kegiatan penelitian tindakan berawal di barat, kemudian berkembang meluas sehingga
merupakan tindakan sosial yang di lakukan dalam bidang pendidikan. Mulanya,
penelitian tindakan menjadi isu yang kontroversial di Amerika Sarikat yang pada
perang dingin mencurigai dan membatasi segala sesuatu yang berbau komunisme
atau maxisme. Hal ini terjadi karena penelian tindakan banyak digunakan untuk meneliti
masalah-masalah segregasi antara kulit putih dan kulit hitam.
Penelitian Tindakan atau Action
Research mulai berkembang sejak
perang dunia ke dua. Saat itu, Penelitian Tindakan sedang berkembang dengan
pesatnya di negara-negara maju seperti Inggris, Amerika, Australia, dan
Canada. Munculnya istilah Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action
Research) diawali dari adanya penelitian tindakan itu sendiri atau action
research. Saat itu penelitian tindakan digunakan untuk memecahkan permasalahan
yang dihadapi seseorang dalam tugasnya sehari-hari dimanapun tempatnya, seperti
kantor, pabrik, bank, sekolah, rumah sakit, dan lain sebagainya.
Munculnya istilah Penelitian
Tindakan Kelas (PTK) ini, dikarenakan untuk membedakan
penelitian yang digunakan dalam dunia pendidikan dengan penelitian tindakan
pada bidang lainnya. Penambahan kata kelas pada penelitian tindakan kelas ini,
juga untuk mengarahkan pada pemecahan permasalahan dengan penerapan langsung di
kelas. Kelas di sini tidak hanya berarti di ruang kelas, melainkan di manapun
tempat guru tersebut mengadakan proses pembelajaran baik itu di laboratiorium,
tempat praktek, atau proses pembelajaran di luar kelas.
Lahirnya rancangan penelitian tindakan
kelas dapat ditelusuri dari awal penelitian dalam ilmu pendidikan yang
diinspirasi melalui pendekatan ilmiah yang diadvokasi oleh filsuf John Dewey
(1910) dalam bukunya How We Think dan The Source of a Science of
Education.
Awal mulanya, Action
Research dikembangkan oleh seorang psikologi bernama Kurt Lewin dengan tujuan untuk
mencari penyelesaian terhadap problem sosial, seperti pengangguran atau
kenakalan remaja yang berkembang di masyarakat pada waktu itu. Action
Research diawali oleh suatu kajian terhadap suatu problem secara
sistematis. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) pertama kali dikenalkan oleh Kurt
Lewin. Pada waktu itu, PTK dipakai untuk mendeskripsikan penelitian yang
merupakan perpaduan antara pendekatan eksperimental dalam bidang ilmu social
dengan program tindakan social untuk menanggapi masalah social.
Di Indonesia mulai
digerakkan pada waktu upaya-upaya perbaikan mutu pendidikan dimulai dengan
renovasi ditingkat pendidikan guru sekolah dasar seperti pendidikan guru
sekolah dasar (PGSD) kemudian berkembang di kalangan guru-guru SLTP dan SMA
terutama mereka yang belajar studi ke-SD-an dan reguler pada program pasca
sarjana LPTK seperti IKIP di jakarta, bandung, malang dan lain-lain dalam
dekade tahun sembilan puluhan.
B.
Pengaruh
Aliran Postmodernisme
Tidak dapat di pungkiri lagi bahwa
para peneliti kualitatif banyak yang terpengaruh oleh aliran pasca modern (
postmodern), yang mengehendaki pendekatan inkuiri yang menolak upaya – upaya
ilmiah dari kemampanan penelitian professional yang cendrung berstuktur
kekuasaan.
Penelitian yang seperti itu juga di
sebut sebagai penelitian pascaposifistik untuk membedakan dengan penelitian
yang memakai alur piker hipotetik –deduktif – verifikatif. Isu mengenai
postmodernisme sudah sua puluh tahun lebih menjadi perdebatan kontrolvesial
dikalangan cendikiawan, terutama di Barat. Adapun yang di maksud dengan aliran
pascamodern ialah merujuk pada gerakan estetik yang berkembang pada tahun 1980-an dikalangan disiplin ilmu seperti
arsitektur, sastra, seni, sosiologi, mode fashion dan teknologi. Pada waktu itu
di kalangan cendikiawan Prencis terbitlah sebuah karya Jean – Francois
Lyotard yang berjudul Postmodern
condition (1979) yang isinya mengkritik landasan keilmuan yang holistic,
dasar-dasar dari kenyataan kebenaran secara metafisik, dan terhadap
tiori-tiori besar yang dijadikan ukuran kebenaran kenyataan tersebut.
Secara sederhana, gerakan ini
menunjuk kepada aliran berfikir yang berkembang sesudah priode modernisme. Agar
lebih jelas, dalam konteks sejarah, aliran modernisme sendiri yang berkembang
pada zaman pencerahan atau pada abad ke-18 dan dilandasi dibidang keilmuan
dengan rasio, atau rasionalitas sebagai bentuk tertinggi dalam fungsi mental
yang di tandai dengan obyektivitas. Pengetahuan yang di capai melalui sains
menghasilkan kebenaran yang universal mengenai dunia, dan kebenaran yang di
capai melalui sains akan membawa peningkatan dan kemajuan kepada kemanusiaan.
Gugatan para peneliti aliran
postmodernisme terhadap penelitian positivistic antara lain sebagai berikut :
1. Kecendrungan yang deterministic
2. Kecendrungan mereduksi, termasuk
fenomena kemanusiaan yang harus tunduk
kepada satu peringkat dalil atau teori saja.
3. Pengaruh
peneliti sangat menentukan, seperti tampak dalam defenisi permasalahan,
instrumentasi, pengumpulan data dan analisisnya, serta manfaat hasil penelitian
dan dengan mengesampingkan hak-hak responden.
4. Tekanan penelitian pada etict dengan
perspektif luar (yang obyetif)dan mengesampingkan Emic yaitu penelitian yang
mencangkup perspektip dalam.
C.
Tradisi
Penelitian Kualitatif
Yang
dimaksud dengan tradisi penelitian aialah, apabila sekelompok ilmuan
sepakat dalam hakikat universal dari pertanyaan atau permasalahan sah yang
sedang di kaji. Sedangkan penelitian
kualitatif adalah sebuah proses inkuiri yang menyelidiki masalah-masalh
social dan kemanusiaan dengan tradisi metodologis yang berbeda. peneliti
membangun sebuah gambaran yang kompleks dan holistic, menganalisa kata-kata,
melaporkan pandangan atau opini para informan, dan keseluruhan studi
berlangsung dalam latar situasi yang alamiah.
Karena penelitian dan kegiatan
ilmiah merupakan kegiatan social, maka para peneliti yang bekerja dalam
berbagai tradisi penelitian dipengaruhi oleh pekerjaan peeneliti lainnya dan
terjadi saling fertilisasi dari berbagai pengaruh. Berikut adala rangkuman dari
karakteristik penelitian kualitatif :
1.
Penelitian kualitatif berlangsung dalan latar alamiah,
tempat kejadian dan prilaku manusia berlangsung..
2.
Penelitian
kualitatif berbeda dengan asumsi-asumsi
dengan penelitian kauntitatif, teori dan hipotesis tidak secar apriori
diharuskan
3.
Peneliti adalah instrument utama penelitian dalam
pengumpulan data.
4.
Data yang dihasilkan bersifat deskriftif atau dalam
kata-kata.
D.
Penelitian
Tindakan Kelas
a.
Dasar Pemikiran
Menurut
Depdiknas (2005), “peningkatan mutu pendidikan dapat dicapai melalui berbagai
cara, antara lain melalui peningkatan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan
lainnya, pelatihan dan pendidikan, atau dengan memberikan kesempatan untuk
menyelesaikan masalah-masalah pembelajaran dan nonpembelajaran secara
profesional lewat penelitian tindakan secara terkendali”.
Dengan
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dapat mengatasai masalah-masalah pendidikan,
kurikulum, dan pembelajaran yang selama ini telah menjadi penyakit dalam dunia
pendidikan. Yang dapat dianalisis, dikembangkan, dan ditingkatkan, supaya
Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAKEM).
b.
Pengertian PTK/CAR
Pengertian penelitian tindakan kelas, untuk mengidentifikasi penelitian
kelas adalah penelitian yang mengkombinasikan prosedur penelitian dengan
tindakan substantive, suatu tindakan yang dilakukan dalam disiplin inkuiri atau
suatu usaha seseorang untuk memahami apa yang sedang terjadi, sambil terlibat
dalam sebuah proses perbaikan dan perubahan.
Raport mengartikan penelitian tindakan kelas untuk membantu seseorang
dalammengarasi secara praktis persoalanm yang dihadapi dalam situasi darurat
dan membantu pencapaian tujuan ilmu social yang disepakati bersama. Sedangkan
Kemmis menjelaskan bahwa penelitian tindakan kelas adalah sebuah bentuk inkuri
reflaktif yang dilakukan secara kemitraan mengenai situasi social tertentu
untuk meningkatkan rasionalitas dan keadialan.
c.
Konsep PTK
Menurut
Lewin, PTK merupakan cara guru untuk mengorganisasikan pembelajaran berdasarkan
pengalamannya sendiri atau pengalamannya berkolaborasi dengan guru lain
(kompetensi profesional). Sementara itu, Calhoun dan Glanz menjelaskan, bahwa
PTK merupakan suatu metode untuk memberdayakan guru yang mampu mendukung
kinerja kreatif sekolah (kompetensi profesional). Cole dan Knowles juga
menegaskan, PTK dapat mengarahkan para guru untuk melakukan kolaborasi,
refleksi, dan bertanya satu dengan yang lain dengan tujuan tidak hanya tentang
program dan metode mengajar, tetapi juga membantu para guru mengembangkan
hubungan-hubungan personal (kompetensi kepribadian).
Dari
beberapa pengertian di atas, bahwa PTK dapat membantu meningkatkan beberapa
kompetensi guru, yaitu; kompetensi profesional, kompetensi kepribadian,
kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial, dan kompetensi pedagogik.
Jadi,
PTK dapat diartikan sebagai suatu proses penyelidikan ilmiah dalam bentuk
refleksi diri yang melibatkan guru dalam situasi pendidikan tertentu dengan
tujuan memperbaiki pemahaman dan keadilan tentang situasi atau praktik
pendidikan, memahami tentang praktik yang dilakukan, dan situasi-situasi di
mana praktik itu dilaksanakan. Untuk mewujudkan tujuan-tujuan tersebut, PTK dilaksanakan
dalam bentuk siklus, yang terdiri dari 4 tahapan, yaitu planning, action,
observation/evaluation, dan reflection.
E. Contoh PTK
Berikut ini adalah contoh PTK SD :
Pada mata pelajaran IPS, target dari guru mata pelajaran IPS adalah
seluruh siswa kelas IV dapat menguasai peta buta pulau Jawa dan Sumatera.
Setelah 2x pertemuan, guru akan melakukan tes secara random dengan cara
menyuruh beberapa siswa maju kedepan untuk menunjukkan daerah/wilayah di dalam
peta buta. Ternyata dari 10 orang siswa yang maju ke depan, hanya 3 siswa yang
dapat menjawab dengan benar. Selebihnya tidak bisa. Kemudian guru membagikan
lembar soal yang berhubungan dengan peta buta ke seluruh siswa. Setelah 10
menit waktu yang diberikan untuk mengerjakan 5 soal, lembar soal dan jawaban
dikumpulkan, hasilnya lebih dari separuh jumlah siswa menjawab salah. Sehingga
bisa disimpulkan bahwa sebagian besar siswa belum menguasai peta buta setelah
2x pertemuan.
Yang harus dilakukan guru adalah mencoba mengevaluasi cara mengajar dan
mencari sumber masalah mengapa para siswa kesulitan menguasai peta buta. Pada
pertemuan berikutnya, guru akan mengulang tema peta buta dengan menggunakan
metode mengajar yang berbeda dengan metode yang digunakan sebelumnya. Setelah
itu, dilakukan cara yang sama seperti sebelumnya dengan soal
Yang berbeda untuk mengetahui kemampuan siswa. Apabila target telah
dipenuhi (semua siswa dalam kelas) telah menguasai materi peta buta, maka bisa
dilanjutkan dengan materi yang lain. Namun bila ternyata target masih belum
dipenuhi, maka guru akan terus mengulang materi tersebut dengan menggunakan
metode pengajaran yang lain.
Langkah terakhir dari PTK SD ini adalah penarikan sebuah kesimpulan
atas metode pengajaran yang harus digunakan supaya siswa dalam kelas menguasai
materi yang diajarkan. Kesimpulan ini yang akan dijadikan sebagai bahan
rekomendasi kepada sekolah mengenai metode pengajaran atas mata pelajaran
tertentu
DAFTAR PUSTAKA
http://rockywinata.wordpress.com/2013/05/07/contoh-penelitian-tindakan-kelas-ptk-sd/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar