Rabu, 30 Oktober 2013

PTK 3

BAB I
PEMBAHASAN
GURU SEBAGAI PENELITI
Pembelajaran merupakan seni, yang dalam pelaksanaanya memerlukan penyesuaian-penyesuaian dengan kondisi lingkungan. Untuk itu diperlukan berbagai penelitian, yang di dalamnya melibatkan guru. Oleh karena itu, guru adalah seorang pencari atau peneliti. Dia tidak tahu dan dia tahu bahwa dia tidak tahu, oleh karena itu dia sendiri merupakan subyek pembelajaran. Dengan kesadaran bahwa ia tidak mengetahui sesuatu maka ia berusaha mencarinyamelalui kegiatan penelitian. Usaha mencari sesuatu itu adalah mencari kebenaran, seperti seorang ahli filsafat yang senantiasa mencari, menemukan dan mengemukakan kebenaran.[1]

Jika seoarang guru ingin menjadi pengamat atau peneliti maka guru perlu mengajarkan defenisi tentang dirinya sendiri kepada siswanya. Hal ini penting untuk meningkatkan pengajarannya dan membuat guru menjadi lebih baik bagi siswanya.
Seorang guru yang ingin melakukan penelitian dan pengembangan terhadap pelajarannya sendiri bisa mendapat beberapa keuntungan, antara lain:[2]
Ø  Dapat bekerjasama dengan guru yang lain sebagai tim.
Ø  Dapat melibatkan siswa dalam proses pengamatan.
Ø  Ada sensivitas dan hubungan personal yang baik antara guru dan siswa.
Guru mesti menjadi pembelajar dan menciptakan metodologi penelitian public dan etika professional sehingga akan memiliki basis untuk mengamati pengajaran rekan guru dan mengurangi elemen ancaman dalam penelitiannya.
            Penelitian kelas adalah upaya memperbaiki pengalaman kelas. Hambatan utama bagi pemahaman siswa adalah mengapa bahwa guru selalu benar.
            Pengembangan kurikulum yang efektif dengan kualitas yang sangat tinggi tergantung pada kapasitas guru untuk melakukan penelitian terhadap pengajaran sendiri, secara kritis dan sistematis.
Dalam situasi ini guru perlu:
ü  Memahami karakter kelasnya sendiri sehingga tidak dihadapkan dengan problem-probel generalisasi diluar pengalamannya.
ü  Menghubungkan konsep-konsep yang satu dengan lainnya secara cermat. Manfaat dan ketepatan kerangka konsep teoritis seharusnya dapat diuji untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang  baru dan menguntungkan.
ü  Guru perlu mengusulkan konsep-konsep baru dan teori-teori baru.[3]
Problem metodologis penelitian antara lain:
Ø  Problem tentang efektivitas
Penelitian dalam kelas harus bertujuan untuk memperbaiki pengajaran. Dengan demikian penelitian harus dilaksanakan guru, sehingga penelitian objektif secara klinis. Persepsi subjeketif guru juga penting untuk praktek karena posisinya auntuk mengontrol kelas.
Ø  Guru dihadapkan dengan pengembangan subjektif kritis dan sesnsitif menuju objektivitas yang tidak dapat diperoleh.
Pengamatan  pada  Penelitian Tindakan Kelas bisa dilakukan langsung oleh Guru tetapi  jika tidak ada kesempatan bisa melalui rekaman.
Hambatan utama bagi Guru sebagai Peneliti, antara lain:
  1. Hambatan psikologis yaitu guru kurang percaya diri dengan kemampuannya dalam meneliti, pengujian kinerja professional guru juga mempengaruhi psikologis guru.
  2. Hambatan social yaitu lingkungan yang tidak mendukung
Untuk memperkecil hambatan guru sebagai peneliti, maka guru dapat bekerja sama dengan peneliti atau penasihat lain dengan tujuan :
ü  Membatu guru dalam melaksanakan metode inkuiri atau discovery.
ü  Mendorong guru untuk melakukan penelitian.

Peran guru sebagai peneliti tindakan kelas, antara lain:
1. Guru sebagai pendidik
Guru adalah pendidik yang menjadi tokoh, panutan, dan identifikasi bagi peserta didik, dan lingkungannya. Oleh karena itu, guru harus memiliki standar kualitas pribadi tertentu, yang mencakup tanggung jawab, wibawa, mandiri dan disiplin.
2. Guru sebagai pengajar
Kegiatan belajar peserta didik dipengaruhi oleh berbagai factor, seperti motivasi, kematangan, hubungan peserta didik dengan guru, kemampuan verbal, tingkat kebebasan, rasa aman, dan keterampilan guru dalam berkomunikasi. Jika factor-faktor di atas dipenuhi, maka melalui pembelajaran peserta didik dapat belajar dengan baik. Oleh karena itu, guru harus berusaha membuat sesuatu menjadi jelas bagi peserta didik, dan berusaha lebih terampil dalam memecahkan masalah.
3. Guru sebagai pembimbing
Sebagai pembimbing perjalanan, guru memerlukan kompetensi yang tinggi untuk melaksanakan empat hal berikut:
Ø  Pertama, guru harus merencanakan tujuan dan mengidentifikasi kompetensi yang hendak dicapai.
Ø  Kedua, guru harus melihat keterlibatan peserta didikdalam pembelajaran, dan yang paling penting bahwa peserta didik melaksanakan kegiatan belajar itu tidak hanya secara jasmaniyah, tetapi mereka harus terlibat secara psikologis.
Ø  Ketiga, guru harus memaknai kegiatan belajar
Ø  Keempat, guru harus melaksanakan penilaian.
4. Guru sebagai penasihat
Menjadi guru pada tingkat manapun berarti menjadi penasihatdan menjadi orang kepercayaan, kegiatan pembelajaranpun meletakkannya pada posisi tersebut. Peserta didik senantiasa berhadapan dengan kebutuhan untuk membuat keputusan, dan dalam prosesnya akan lari kepada gurunya. Dan, makin efektif guru menangani setiap permasalahan, makin banyak kemungkinan peserta didik berpaling kepadanya untuk mendapatkan nasihat dan kepercayaan diri.
5. Guru sebagai model atau teladan
Guru merupakan model atau teladan bagi para peserta didik dan semua orang yang menganggap dia sebagi guru.
Sebagi teladan, tentu saja pribadi dan apa yang dilakukan guru akan mendapat sorotan peserta didik serta orang di sekitar lingkungannya yang menganggap atau mengakuinya sebagi guru. Sehubungan itu, beberapa hal di bawah ini perlu mendapat perhatian, dan bila perlu didiskusikan para guru.
1. sikap dasar
2. bicara dan gaya bicara
3. kebiasaan bekerja
4. sikap melalui pengalaman dan kesalahan
5. pakaian
6. hubungan kemanusiaan
7. proses berpikir
8. selera
9. keputusan
10. kesehatan
11. gaya hidup secara umum
6. Guru sebagai motivator
Dalam upaya memberikan motivasi, guru dapat menganalisis motif-motif yang melatarbelakangi anak didik malas belajar dan menurun prestasinya di sekolah. Motivasi dapat efektif bila dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan anak didik . penganekaragaman cara belajar memberikan penguatan dan sebagainya, juga dapat memberikan motivasi pada anak didik untuk lebih bergairah dalam belajar.[4]
7. Guru sebagai pendorong kreativitas
Sebagai orang yang kreatif, guru menadari bahwa kreatifitas merupakan yang universal dan oleh karenanya semua kegiatannya di topang, di bombing dan dibangkitkan oleh kesadaran itu, ia sendiri adalah seorang creator dan motivator, yang berada di pusat proses pendidikan. akibat dari fungsi ini, guru senantiasa berusaha untuk menemukan cara yang lebih baik dalam melayani peserta didik, sehingga peserta didik akan menilainya bahwa ia memang kreatif dan tidak melakukan sesuatu secara rutin saja. Kreativitas menunjukkan bahwa apa yang akan dikerjakan oleh guru sekarang lebih bik dari yang telah di kerjakan sebelumnya dan apa yang akan di kerjakan di masa mendatang lebih baik dari sekarang.
8. Guru sebagai pembangkit pandangan
Dunia ini panggung sandiwara, yang penuh dengan berbagai kisah dan peristiwa, mulai dari kisah nyata sampai yang direkayasa. Dalam hal ini, guru dituntut untuk memberikan dan memelihara pandangan tentang keagungan kepada peserta dididiknya. Mengemban fungsi ini guru harus terampil dalam berkomunikasi dengan peserta didik di segala umur, sehingga setiap langkah dari proses pendidikan yang dikelolanya di laksanakan untuk menunjang fungsi ini. Guru tahu bahwa ia tidak dapat membangkitkan pandangan tentang kebesaran kepada peserta didik jika ia sendiri tidak memilikinya. Oleh karena itu, para guru perlu dibekali dengan ajaran tentang hakekat manusia dan setelah mengenalnya akan mengenal pula kebesaran allah yang menciptakannya.

9. Guru sebagi pekerja rutin
Guru bekerja dengan keterampilan, dan kebiasaan tertentu, serta kegiatan rutin yang amat di perlukan dan seringkali memberatkan. Jika kegiatan tersebut tidak dikerjakan dengan baik, mak bias mengurangi atau merusak keefektifan guru pada semua peranannya.
Sedikitnya terdapat 17 kegiatan rutin yang sering dikerjakan guru dalam pembelajarn di setiap tingkat, yaitu:
1. bekerja tepat waktu baik diawal maupun akhir pembelajaran
2. membuat catatan dan laporan sesuai dengan standar kinerja, ketepatan dan jadwal waktu
3. membaca, mengevaluasi dan mengembalikan hasil kerja peerta didik
4. mengatur kehadiran peserta didik dengan penuh tanggung jawab
5. mengatur jadwal, kegiatan harian, mingguan, semesteran dan tahunan
6. mengembangkan peraturan dan prosedur kegiatan kelompok, termasuk diskusis
7. menetapkan jadwal peserta didik
8. mengadakan pertemuan dengan orang tua dan dengan peserta didik
9. mengatur tempat duduk peserta didik
10. mencatat kehadiran peserta didik
11. memahami peserta didik
12. menyiapkan bahan-bahan pembelajaran, kepustakaan, dan media pembelajaran
13. menghadiri pertemuan dengan guru, orang tua peserta didik dan alumni
14. menciptakan ikhlas kelas yang kondusif
15. melaksanakan latihan-latihan pembelajaran
16. merencanakan program khusus dalam pembelajaran, misalnya karyawisata
17. menasehati peserta didik
10.Guru sebagai seorang aktor
Sebagai seorang aktor, guru harus melakukan apa yang ada dalam naskah yang telah disusun dengan mempertimbangkan pesan yang akan disampaikan kepada penonton. Penampilan yang bagus dari seorang actor akan mengakibatkan para penonton tertawa, mengikuti dengan sungguh-sungguh, dan bisa pula menangis terbawa oleh penampilan sang actor. Untuk bisa berperan sesuai dengan tuntutan naskah, dia harus menganalisis dan melihat kemampuannya sendiri, persiapannya, memperbaiki kelemahan, menyempurnakan aspek-aspek baru dari setiap penampilan, mempergunakan pakaian, tat arias sebagaiman yang diminta, dan kondisinya sendiri untuk menghadapi ketegangan emosinya dari malam ke malam serta mekanisme fisik yang harus ditampilkan.[5]
11. Guru sebagai evaluator
Evaluasi atau penilaian merupakan aspek pembelajaran yang paling kompleks, karena melibatkan banyak latar belakang banyak latar belakang dan hubungan, serta variable lain yang mempunyai arti apabila berhubungan dengan konteks yang hampir tidak mungkin dapat dipisahkan dengan setiap segi penilaian, karena penilaian merupakan proses menetapkan kualitas hasil belajar, atau proses untuk menentukan tingkat pencapaian tujuan pembelajaran oleh peserta didik.
12. Guru sebagai fasilitator
Sebagai fasilitator, guru hendaknya dapat menyediakan fasilitas yang memungkinkan kemudahan kegiatan belajar anak didik. Lingkungan belajar yang tidak menyenangkan, suasana ruang kelas yang pengap, meja dan kursi yang berantakan, fasilitas belajar yang kurang tersedia, menyebabkan anak didik malas belajar. Oleh karena itu menjadi tugas guru bagaiman menyediakan fasilitas, sehingga akan tercipta lingkunganbelajar yang menyenangkan anak didik.[6]
13. Guru sebagai supervisor
Guru hendaknya dapat membantu, memperbaiki, dan menilai secara kritis terhadap proses pengajaran. Tehnik-tehnik supervisi harus guru kuasai dengan baik agar dapat melakukan perbaikan terhadap situasi belajar mengajar menjadi lebih baik. Untuk itu kelebihan yang dimiliki supervisor bukan hanya karena pengalamannya, pendidikannya, kecakapannya, atau keterampilan-keterampilan yang dimilikinya, atau karena memiliki sifat-sifat kepribadian yang menonjol daripada orang-orang yang disupervisinya.






BAB II
KESIMPULAN
Kesimpulan penelitian tindakan kelas sebagai suatu pengalaman adalah sbb:
a. Guru seharusnya berpartisipasi dalam PTK
b. Guru berpikir lebih mendalam tentang metode dan teknik pengajarannya
c.  PTK harus dilakukan dengan hati-hati dan benar
d. PTK gagal tercapai dapat dikarenakan:
  1. Kelas salah menginterpretasikan tujuan
  2. Metode yang digunakan tidak cocok dengan tujuan
  3. Ada halangan tertentu tertentu  dalam mencapai tujuan 
Ø  PTK berfungsi untuk mengevaluasi kinerja guru sendiri
Ø  Untuk menentukan teknik-teknik yang cocok dalam pengajaran
Ø  Dalam melaksanakan PTK guru perlu bantuan dan perhatian
Ø  PTK membantu guru memecahkan problem di kelas
Ø  PTK membantu memahami problem guru sendiri dan juga guru yang lain.





DAFTAR ISI
E. Mulyasa, menjadi guru professional, PT. remaja rosdakrya, bandung.2007.
http://laksmie.guru-indonesia.net/artikel_detail-26898.html
Syaiful Bahri Djamarah. Guru dan anak didik dalam interaksi edukatif, Rineka cipta , Jakarta , 2005.





[1] E. Mulyasa, menjadi guru professional, PT. remaja rosdakrya, bandung.2007, Hal:37-51
[2] http://laksmie.guru-indonesia.net/artikel_detail-26898.html

[3] http://laksmie.guru-indonesia.net/artikel_detail-26898.html

[4] syaiful bahri djamarah. Guru dan anak didik dalam interaksi edukatif, Rineka cipta , Jakarta , 2005, Hal.45
[5] Opcit.Hal:58-59
[6] Lopcit, Hal: 46

Tidak ada komentar:

Posting Komentar