BAB I
PEMBAHASAN
GURU
SEBAGAI PENELITI
Pembelajaran
merupakan seni, yang dalam pelaksanaanya memerlukan penyesuaian-penyesuaian
dengan kondisi lingkungan. Untuk itu diperlukan berbagai penelitian, yang di
dalamnya melibatkan guru. Oleh karena itu, guru adalah seorang pencari atau
peneliti. Dia tidak tahu dan dia tahu bahwa dia tidak tahu, oleh karena itu dia
sendiri merupakan subyek pembelajaran. Dengan kesadaran bahwa ia tidak
mengetahui sesuatu maka ia berusaha mencarinyamelalui kegiatan penelitian.
Usaha mencari sesuatu itu adalah mencari kebenaran, seperti seorang ahli filsafat yang senantiasa
mencari, menemukan dan mengemukakan kebenaran.[1]
Jika
seoarang guru ingin menjadi pengamat atau peneliti maka guru perlu mengajarkan
defenisi tentang dirinya sendiri kepada siswanya. Hal ini penting untuk
meningkatkan pengajarannya dan membuat guru menjadi lebih baik bagi siswanya.
Seorang
guru yang ingin melakukan penelitian dan pengembangan terhadap pelajarannya
sendiri bisa mendapat beberapa keuntungan, antara lain:[2]
Ø Dapat
bekerjasama dengan guru yang lain sebagai tim.
Ø Dapat
melibatkan siswa dalam proses pengamatan.
Ø Ada
sensivitas dan hubungan personal yang baik antara guru dan siswa.
Guru
mesti menjadi pembelajar dan menciptakan metodologi penelitian public dan etika
professional sehingga akan memiliki basis untuk mengamati pengajaran rekan guru
dan mengurangi elemen ancaman dalam penelitiannya.
Penelitian kelas adalah upaya memperbaiki pengalaman kelas. Hambatan utama bagi
pemahaman siswa adalah mengapa bahwa guru selalu benar.
Pengembangan kurikulum yang efektif dengan kualitas yang sangat tinggi tergantung pada kapasitas guru untuk
melakukan penelitian terhadap pengajaran sendiri, secara kritis dan sistematis.
Dalam
situasi ini guru perlu:
ü Memahami
karakter kelasnya sendiri sehingga tidak dihadapkan dengan problem-probel
generalisasi diluar pengalamannya.
ü Menghubungkan
konsep-konsep yang satu dengan lainnya secara cermat. Manfaat dan ketepatan
kerangka konsep teoritis seharusnya dapat diuji untuk menjawab
pertanyaan-pertanyaan yang baru dan menguntungkan.
Problem
metodologis penelitian antara lain:
Ø Problem
tentang efektivitas
Penelitian
dalam kelas harus bertujuan untuk memperbaiki pengajaran. Dengan demikian
penelitian harus dilaksanakan guru, sehingga penelitian objektif secara klinis.
Persepsi subjeketif guru juga penting untuk praktek karena posisinya auntuk
mengontrol kelas.
Ø Guru
dihadapkan dengan pengembangan subjektif kritis dan sesnsitif menuju
objektivitas yang tidak dapat diperoleh.
Pengamatan
pada Penelitian Tindakan Kelas bisa dilakukan langsung oleh Guru
tetapi jika tidak ada kesempatan bisa melalui rekaman.
Hambatan
utama bagi Guru sebagai Peneliti,
antara lain:
- Hambatan psikologis yaitu guru
kurang percaya diri dengan kemampuannya dalam meneliti, pengujian kinerja
professional guru juga mempengaruhi psikologis guru.
- Hambatan social yaitu lingkungan
yang tidak mendukung
Untuk
memperkecil hambatan guru sebagai peneliti, maka guru dapat bekerja sama dengan
peneliti atau penasihat lain dengan tujuan :
ü Membatu
guru dalam melaksanakan metode inkuiri atau discovery.
ü Mendorong
guru untuk melakukan penelitian.
Peran guru sebagai peneliti tindakan kelas, antara lain:
1.
Guru sebagai pendidik
Guru
adalah pendidik yang menjadi tokoh, panutan, dan identifikasi bagi peserta
didik, dan lingkungannya. Oleh karena itu, guru harus memiliki standar kualitas
pribadi tertentu, yang mencakup tanggung jawab, wibawa, mandiri dan disiplin.
2.
Guru sebagai pengajar
Kegiatan
belajar peserta didik dipengaruhi oleh berbagai factor, seperti motivasi,
kematangan, hubungan peserta didik dengan guru, kemampuan verbal, tingkat
kebebasan, rasa aman, dan keterampilan guru dalam berkomunikasi. Jika
factor-faktor di atas dipenuhi, maka melalui pembelajaran peserta didik dapat
belajar dengan baik. Oleh karena itu, guru harus berusaha membuat sesuatu
menjadi jelas bagi peserta didik, dan berusaha lebih terampil dalam memecahkan
masalah.
3.
Guru sebagai pembimbing
Sebagai
pembimbing perjalanan, guru memerlukan kompetensi yang tinggi untuk
melaksanakan empat hal berikut:
Ø Pertama,
guru harus merencanakan tujuan dan mengidentifikasi kompetensi yang hendak
dicapai.
Ø
Kedua, guru harus melihat keterlibatan peserta didikdalam pembelajaran,
dan yang paling penting bahwa peserta didik melaksanakan kegiatan belajar itu
tidak hanya secara jasmaniyah, tetapi mereka harus terlibat secara psikologis.
Ø
Ketiga,
guru harus memaknai kegiatan belajar
Ø
Keempat,
guru harus melaksanakan penilaian.
4. Guru sebagai penasihat
Menjadi guru pada tingkat manapun berarti menjadi
penasihatdan menjadi orang kepercayaan, kegiatan pembelajaranpun meletakkannya
pada posisi tersebut. Peserta didik senantiasa berhadapan
dengan kebutuhan untuk membuat keputusan, dan dalam prosesnya akan lari kepada
gurunya. Dan, makin efektif guru menangani setiap permasalahan, makin banyak
kemungkinan peserta didik berpaling kepadanya untuk mendapatkan nasihat dan
kepercayaan diri.
5. Guru sebagai model atau teladan
Guru
merupakan model atau teladan bagi para peserta didik dan semua orang yang
menganggap dia sebagi guru.
Sebagi
teladan, tentu saja pribadi dan apa yang dilakukan guru akan mendapat sorotan
peserta didik serta orang di sekitar lingkungannya yang menganggap atau mengakuinya
sebagi guru. Sehubungan itu, beberapa hal di bawah ini perlu mendapat
perhatian, dan bila perlu didiskusikan para guru.
1. sikap
dasar
2. bicara
dan gaya bicara
3. kebiasaan
bekerja
4. sikap
melalui pengalaman dan kesalahan
5. pakaian
6. hubungan
kemanusiaan
7. proses
berpikir
8. selera
9. keputusan
10. kesehatan
11. gaya
hidup secara umum
6. Guru sebagai motivator
Dalam
upaya memberikan motivasi, guru dapat menganalisis motif-motif yang
melatarbelakangi anak didik malas belajar dan menurun prestasinya di sekolah.
Motivasi dapat efektif bila dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan anak didik
. penganekaragaman cara belajar memberikan penguatan dan sebagainya, juga dapat
memberikan motivasi pada anak didik untuk lebih bergairah dalam belajar.[4]
7. Guru sebagai pendorong kreativitas
Sebagai orang yang kreatif, guru menadari bahwa
kreatifitas merupakan yang universal dan oleh karenanya semua kegiatannya di
topang, di bombing dan dibangkitkan oleh kesadaran itu, ia sendiri adalah
seorang creator dan motivator, yang berada di pusat proses pendidikan. akibat
dari fungsi ini, guru senantiasa berusaha untuk menemukan cara yang lebih baik
dalam melayani peserta didik, sehingga peserta didik akan menilainya bahwa ia
memang kreatif dan tidak melakukan sesuatu secara rutin saja. Kreativitas
menunjukkan bahwa apa yang akan dikerjakan oleh guru sekarang lebih bik dari
yang telah di kerjakan sebelumnya dan apa yang akan di kerjakan di masa
mendatang lebih baik dari sekarang.
8. Guru sebagai pembangkit pandangan
Dunia
ini panggung sandiwara, yang penuh dengan berbagai kisah dan peristiwa, mulai
dari kisah nyata sampai yang direkayasa. Dalam hal ini, guru dituntut untuk
memberikan dan memelihara pandangan tentang keagungan kepada peserta
dididiknya. Mengemban fungsi ini guru harus terampil dalam berkomunikasi dengan
peserta didik di segala umur, sehingga setiap langkah dari proses pendidikan
yang dikelolanya di laksanakan untuk menunjang fungsi ini. Guru tahu bahwa ia
tidak dapat membangkitkan pandangan tentang kebesaran kepada peserta didik jika
ia sendiri tidak memilikinya. Oleh karena itu, para guru perlu dibekali dengan
ajaran tentang hakekat manusia dan setelah mengenalnya akan mengenal pula
kebesaran allah yang menciptakannya.
9. Guru sebagi pekerja rutin
Guru
bekerja dengan keterampilan, dan kebiasaan tertentu, serta kegiatan rutin yang
amat di perlukan dan seringkali memberatkan. Jika kegiatan tersebut tidak
dikerjakan dengan baik, mak bias mengurangi atau merusak keefektifan guru pada
semua peranannya.
Sedikitnya
terdapat 17 kegiatan rutin yang sering dikerjakan guru dalam pembelajarn di
setiap tingkat, yaitu:
1. bekerja
tepat waktu baik diawal maupun akhir pembelajaran
2. membuat
catatan dan laporan sesuai dengan standar kinerja, ketepatan dan jadwal waktu
3. membaca,
mengevaluasi dan mengembalikan hasil kerja peerta didik
4. mengatur
kehadiran peserta didik dengan penuh tanggung jawab
5. mengatur
jadwal, kegiatan harian, mingguan, semesteran dan tahunan
6. mengembangkan
peraturan dan prosedur kegiatan kelompok, termasuk diskusis
7. menetapkan
jadwal peserta didik
8. mengadakan
pertemuan dengan orang tua dan dengan peserta didik
9. mengatur
tempat duduk peserta didik
10. mencatat
kehadiran peserta didik
11. memahami
peserta didik
12. menyiapkan
bahan-bahan pembelajaran, kepustakaan, dan media pembelajaran
13. menghadiri
pertemuan dengan guru, orang tua peserta didik dan alumni
14. menciptakan
ikhlas kelas yang kondusif
15. melaksanakan
latihan-latihan pembelajaran
16. merencanakan
program khusus dalam pembelajaran, misalnya karyawisata
17. menasehati
peserta didik
10.Guru sebagai seorang aktor
Sebagai
seorang aktor, guru harus melakukan apa yang ada dalam naskah yang telah
disusun dengan mempertimbangkan pesan yang akan disampaikan kepada penonton.
Penampilan yang bagus dari seorang actor akan mengakibatkan para penonton
tertawa, mengikuti dengan sungguh-sungguh, dan bisa pula menangis terbawa oleh
penampilan sang actor. Untuk bisa berperan sesuai dengan tuntutan naskah, dia
harus menganalisis dan melihat kemampuannya sendiri, persiapannya, memperbaiki
kelemahan, menyempurnakan aspek-aspek baru dari setiap penampilan,
mempergunakan pakaian, tat arias sebagaiman yang diminta, dan kondisinya
sendiri untuk menghadapi ketegangan emosinya dari malam ke malam serta mekanisme
fisik yang harus ditampilkan.[5]
11. Guru sebagai evaluator
Evaluasi
atau penilaian merupakan aspek pembelajaran yang paling kompleks, karena
melibatkan banyak latar belakang banyak latar belakang dan hubungan, serta
variable lain yang mempunyai arti apabila berhubungan dengan konteks yang
hampir tidak mungkin dapat dipisahkan dengan setiap segi penilaian, karena
penilaian merupakan proses menetapkan kualitas hasil belajar, atau proses untuk
menentukan tingkat pencapaian tujuan pembelajaran oleh peserta didik.
12. Guru sebagai fasilitator
Sebagai
fasilitator, guru hendaknya dapat menyediakan fasilitas yang memungkinkan
kemudahan kegiatan belajar anak didik. Lingkungan belajar yang tidak
menyenangkan, suasana ruang kelas yang pengap, meja dan kursi yang berantakan,
fasilitas belajar yang kurang tersedia, menyebabkan anak didik malas belajar.
Oleh karena itu menjadi tugas guru bagaiman menyediakan fasilitas, sehingga
akan tercipta lingkunganbelajar yang menyenangkan anak didik.[6]
13. Guru sebagai supervisor
Guru
hendaknya dapat membantu, memperbaiki, dan menilai secara kritis terhadap proses
pengajaran. Tehnik-tehnik supervisi harus guru kuasai dengan baik agar dapat
melakukan perbaikan terhadap situasi belajar mengajar menjadi lebih baik. Untuk
itu kelebihan yang dimiliki supervisor bukan hanya karena pengalamannya,
pendidikannya, kecakapannya, atau keterampilan-keterampilan yang dimilikinya,
atau karena memiliki sifat-sifat kepribadian yang menonjol daripada orang-orang
yang disupervisinya.
BAB II
KESIMPULAN
Kesimpulan
penelitian tindakan kelas sebagai suatu pengalaman adalah sbb:
a.
Guru seharusnya berpartisipasi dalam PTK
b.
Guru berpikir lebih mendalam tentang metode dan teknik pengajarannya
c.
PTK harus dilakukan dengan hati-hati dan benar
d.
PTK gagal tercapai dapat dikarenakan:
- Kelas salah menginterpretasikan
tujuan
- Metode yang digunakan tidak cocok
dengan tujuan
- Ada halangan tertentu
tertentu dalam mencapai tujuan
Ø PTK
berfungsi untuk mengevaluasi kinerja guru sendiri
Ø Untuk
menentukan teknik-teknik yang cocok dalam pengajaran
Ø Dalam
melaksanakan PTK guru perlu bantuan dan perhatian
Ø PTK
membantu guru memecahkan problem di kelas
Ø PTK
membantu memahami problem guru sendiri dan juga guru yang lain.
DAFTAR ISI
E. Mulyasa, menjadi
guru professional, PT. remaja rosdakrya, bandung.2007.
http://laksmie.guru-indonesia.net/artikel_detail-26898.html
Syaiful Bahri Djamarah.
Guru dan anak didik dalam interaksi edukatif, Rineka cipta , Jakarta ,
2005.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar